Mengabarkan Fakta
MasukIndeks
Opini  

Embun Ramadhan

Penulis : Dr. Muhammad Sabri AR. (Direktur Pengkajian Materi BPIP RI)
Penulis : Dr. Muhammad Sabri AR. (Direktur Pengkajian Materi BPIP RI)

Mewart.com, Makassar — Bahasa, juga Kalam yang dipilih Tuhan, selalu berangkat dari kesunyian, kekosongan dan juga kehendak. Rumusan “rupa” Ilahi, juga sabda-Nya, dengan sendirinya tertanam pada verbum yang tersimpul dalam aneka galaksi tanda, meski melesat menghampiri Yang Maha Tak Tercakapkan.

Setiap tradisi keagamaan memiliki bentuk spiritualitas atau esoterisme yang unik. Spiritualitasnya bukanlah sesuatu yang periferial, justru ia adalah esensi yang tertanam di setiap jantung agama (heart of religions) dan tradisi otentik. Spiritualitas yang dimaksud adalah sebilah kesadaran mendalam (deep consciousness) terhadap Yang Ilahi. Kesadaran ini sekaligus meneguhkan perihal keperiadaan-Nya (Being).

Dalam spiritualisme Kristen, misalnya kesadaran terhadap Yang Ilahi diandaikan sebagai Yang Maha Hadir (Al-Hudhûr) pada intinya, dan terekspresikan dalam bentuk cinta. Maka, esoterisme Kristen lebih tampak sebagai “spiritualitas kecintaan”. Karena Dia Yang Maha Hadir, maka segala sesuatu via Kasih-Nya adalah tajalli atau manifestasi-Nya: Yesus Kristus di titik ini, diyakini sebagai citra-Nya yang paling agung (Imago Dei).

Sementara dalam spiritualisme Islam, Yang Ilahi diletakkan sebagai Yang Maha Benar (Al-Haqq), yang mysterium dan tak dapat diamsalkan dengan apa pun: “laysa kamitslihi syai’”. Dia bersabda: “Aku adalah perbendaharaan yang mysterium. Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan semesta.” Dengan begitu, spiritulitas Islam dapat diandaikan sebagai “spiritualitas kearifan” (ma’rifah). Akan tetapi, meski pun aspek “cinta” mendominasi spiritualitas Kristen, ia tetap mengandung anasir “kearifan.” Begitu juga dengan spiritualitas Islam, meski tampil dalam bentuk “kearifan” (ma’rifah), ia tetap merengkuh unsur “cinta.” Inilah aspek a priori dalam spiritualitas-esoterik yang tidak pernah menghalau kehadiran unsur “lain” dalam tradisi agama-agama.

Jejak keunikan serupa juga dijumpai dalam tradisi spiritualitas Tao. Apa yang diandaikan Taoisme sebagai Tao, disebut para kaum ‘irfani sebagai Al-Haqq. Tao adalah Hakikat yang teramat sulit dikenali dan didefinisikan, karena Tao mengepakkan sayap pemaknaan yang aneka: Tao terkadang dilihat sebagai Realitas (The Real), Kebenaran (The Truth), dan juga Jalan (The Way). Betapa pun Tao, sangat menonjolkan dirinya sebagai Jalan atau Shirath dalam tradisi Islam.

Relasi antara universalitas dan partikularitas, pada urutannya bisa diletakkan dalam percakapan ontologis dan epistemologis. Suatu hal partikular, sejatinya universalitas yang terpartikularisasi dengan suatu partikularitas tertentu. Ibarat “ketuhanan” sejatinya adalah “Tuhan” universal, yang terpatikularisasi ke dalam “sifat, nama, atau pun cipta-Nya”. Ini argumen ontologisnya.

Mengetahui “yang partikularitas” tanpa mengenal “yang universalitas” jelas non sense. Itu sama artinya bahwa “Saya mengetahui ide ketuhanan namun tidak mengenal Tuhan itu sendiri.” Yang partikular, sebab itu, tidak mungkin terpisahkan dari yang universal, baik pada alas ontologis maupun epistemologis.

Pengandaian demikian itulah yang bersifat esoteris dalam tradisi agama-agama, yang membilangkan: meski Tuhan misterium transenden-universal, namun jejak-jejak partikularitas-Nya terhunjam kukuh dan melintas pada setiap sistem keimanan eksoterik dalam bentang sejarah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *