Mengabarkan Fakta
MasukIndeks
Opini  

Kenapa Anak-anak kita Menjadi Agresif?

Gowa. Mewarta.com. Hari itu jalanan macet, pasukan sabhara berlari dengan beringas, anak remaja dengan pakaian putih abu-abu belingsatan seperti memburu sesuatu, pakaiannya kumal dan masih tampak ada percikan darah membasahi bajunya yang putih, astagfirullah! ditangannya tergenggam parang. Setiap senja kini engkau menjadi medan laga para remaja harapan bangsa, youth today as fighter for tomorrow !

Jangan terkejut, apabila suatu ketika rumah kita didatangi oleh aparat, dan memberitakan bahwa anak kita tergolek di kamar mayat disebuah rumah sakit, atau tiba-tiba kepala sekolah memanggil kita dan menunjukkan surat pemecatan anak tercinta. Ah! lantas kemana kita akan menitipkan anak-anak kita?.

Kendati anak yang manis, tekun belajar dan alim, bisa saja dia benjol tiba-tiba terhunjam timpukan batu nyasar dari tawuran yang beringas!. Anehnya tendensi tawuran (perkelahian antar pelajar) sering terjadi setiap bulan Juli (tahun ajaran baru) dan bulan Oktober menjelang curah hujan mengguyur (apakah karena kedinginan lantas warming up dengan berkelahi keroyokan, who knows!. Dalam keadaan seperti ini ada baiknya kita menyimak sabda Rasul yang mengatakan semua bayi itu dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka tergantung pada orangtua atau lingkungannyalah, apakah anak tadi akan berahlak seperti yahudi, nasara atau majusi.

Orangtua dan lingkungan mempunyai peranan paling sentral dalam pembentukan watak anak kita. Anak tidak cukup hanya dimanja dengan melemparkan segepok uang saku, sebuah mobil dan ticket liburan ke luar negeri, lebih dari itu ada yang hakiki didambakan anak, yaitu kasih sayang (baiti jannati). Cinta dan affection, menurut Buchler and Spitz merupakan tuntutan primer dari anak terhadap orangtuanya.

Ketiadaan cinta atau bahkan penolakan cinta orangtua (parental rejection) akan menyebabkan anak melakukan kompensasi deliquence dengan cara-cara bohemian, eksibisionistis. Seorang psycholog klinis mengatakan bahwa anak yang dilimpahi atensi dan cinta orangtua, ternyata dapat tumbuh dewasa lebih cepat, dan bisa belaj ar mengantisipasi harapan-harapan orangtuanya.

Sedangkan mereka yang kehilangan kasih sayang justru akan mengendap perasaan dendam dan kebencian laten, yang sewaktu-waktu mudah disulut oleh solidaritas teman bermainnya (peer group).

Penelitian Stor juga mengungkapkan bahwa kenakalan remaja (juvenile deliquencey) sering terjadi dari kalangan menengah ke atas, dimana intensitas dan kualitas komunikasi antar anggaota keluarga sangat sedikit. Biasanya orangtua disibukkan dengan prestasi kerja serta gengsi dan pamor di dunia luar, kehilangan pijakan alami dirumah tangganya. Anak-anak yang kurang kasih sayang sudah banyak dianalisa oleh para sosio psychology , dan bahkan James Coleman dalam bukunya Abnormal psychology and Modern Life, menyebut kekurangan kasih sayang tersebut sebagai communicable disease yaitu penyakit yang bisa menular! Kesibukan orangtua, menyebabkan hilangnya hubungan emosional yang justru sangat dibutuhkan oleh anak – anak sejak dini.

Kaum Ibu sudah tidak lagi hafal mendendangkan pok ame-ame, sebuah tembang untuk pengantar tidur (ah.. kan lebih praktis putar youtube, sekali klik, akan keluar video & lagu yang kita inginkan). Begitu juga soal dongeng atau ceritra Sangkuriang, Joko Tingkir, Ande-ande lumut, bahkan kepahlawanan Hamzah diperang Badar, dan ketabahan Bilal ketika dipaksa untuk menyembah berhala, rasanya dongeng atau ceritra seperti itu, sudah lama tidak lagi kita sampaikan kepada anak-anak kita dirumah (mendingan kita belikan video game, praktis dan bergengsi).

Selanjutnya harus pula disadari bahwa, peranan buku dan tontonan serta pergaulan sebagai stimulus tingkah laku eksternal juga memegang peranan dominan dalam memberikan sumbangan kriminalitas bagi remaja. Dari penelitian dikenal istilah hypnotic movie, yaitu film-film yang membangkitkan rangsangan emosional sehingga ada internalisasi dan identifikasi dengan penontonnya.

John Hinckley yang menembak Ronald Reagen, ternyata seorang pemuda yang terisolasi miskin cinta orangtua. Dia diilhami oleh heroisme Travis Bickle tokoh dalam film Taxi Driver yang dimainkan dengan sangat baik oleh aktor terkenal Robert de Neiro. Seorang remaja berusia 15 tahun mati bunuh diri di Florida setelah menyaksikan film keras. Penelitian Berkowitz, menyimpulkan adanya hubungan antara rangsangan seksual dan pemerkosaan dikarenakan pengaruh film dan bacaan pornografis. Dan di kota-kota besar khususnya, dengan subur dan sangat demonstratip kita bisa menyaksikan hal-hal seperti ini, rangsangan seronok dipertontonkan dengan bangga dipinggiran jalan, bahkan sekarang ini muncul ditengah-tengah jalan protokol baliho, iklan papan iklan super gede yang aduhai.

Tidak jauh dari sekolahan, dengan lega sang remaja bisa membuka video porno. Malam Seninnya dia asyik didepan TV mengkhatamkan tadarusan dari juz Al Cappone, al hunter wal dee dee mc cool, film dar der dor yang keras sampai pada Sex City, menjadi majelis taklim yang seronok bagi anak – anak dirumah .

Mau sedikit berbudaya (cintailah produksi dalam negeri) maka sang remaja dapat menyimak film seronok lainnya semisal yang dibintangi oleh bintang-bintang film panas bin hot, Ranjang goyang Pengantin, dan film silat yang penuh darah, kepala puntung darah muncrat dapat disimak pula lewat video bajakan dengan judul seram, dari mulai beranak dalam kubur, last but not least dibumbui bergelutnya bintang – bintang yang gelimpangan diatas tanah, fa aina tadhabuun?

Di sekolah dengan diam-diam sang anak disuguhi tontonan murahan yang tidak berkualitas yang menyesatkan, bacaan sudah pasti yang menyeramkan. Lengkaplah sudah rangsangan agresifitas remaja masa kini. Sementara itu, rumah lenggang, karena Ayah main golf (anak main golok) Ibu sibuk arisan dan seminar serta jalan-jalan. Anak kesepian, hanya berteman anjing herder. Jangan jadikan rumah seperti kuburan! begitu kata Nabi, artinya jadikan rumah tempat berkomunikasi, dirikan sholat berjama’ah dan ayah yang menjadi imam setelah salam, membalikkan tubuhnya kemudian memberi fatwa atau berceritra tentang keluhuran ahlak Nabi dan keindahan agama. Sempatkan bercanda dengan anak-anak, tunjukkan secara demonstratip kemesraan ayah dan ibu dihadapan putra putri, karena dalam teori tingkah laku, modeling paling intens adalah prilaku orang tua. Surat An Nisa : 9 mengatakan : Wahai orang beriman jangan kau tinggalkan generasi generasi yang lemah !

Maka adalah ibadah akbar apabila setiap orangtua mendidik dan mencetak anak- anak yang kuat. Kuat Iman, kuat ilmu kuat fisik. Memang benar bahwa kita tidak mungkin menghindarkan diri dari peredaran jaman yang cepat dan pasti berubah. Globalisasi dunia akibat kemajuan teknologi informasi menyebabkan jantung dunia berdenyut lebih cepat. Jarak manusia secara fisik bertambah dekat dan akrab, tetapi sayangnya secara batiniah justru jarak tersebut bertambah jauh. Bagaimanapun hebatnya dunia, menjulangnya gengsi dan reputasi kita, tetapi tetap saja kita hanyalah selembar ilalang ditengah semesta yang besar. Kesadaran dan penghayatan keilahian, harus tetap ditanamakan kepada anak-anak kita, sehingga mereka menjadi sosok manusia yang manusiawi, yang memiliki dimensi keimanan.

Sulit kita bayangkan sebuah masyakarat anak muda, yang berjalan tanpa keimanan Stimulus dunia yang mengoyak privacy, siaran televisi dari mancanegara yang bisa ditangkap dengan sangat baik oleh stasiun televisi saat ini, tidak mugkin hanya ditolak dengan sebuah surat keputusan. Tetapi Islam mengajarkan, bahwa kita harus realistis, kepala boleh mendongak kelangit sampai ke bintang tetapi pastikan bahwa kakimu berpijak dibumi !

Rasul bersabda bahwa salah satu yang akan menolong kita di akhirat adalah doa dari anak-anak kita yang shalih. Sehingga kedudukan anak dalam tatanan keluarga muslim, bukan hanya sekedar buah cinta, tetapi lebih dari itu, anak adalah aset kita diakhirat, anak adalah kader pemimpin dan mujahid dunia akhirat, anak adalah mata rantai dari exsitensi iman yang kita yakini bersama.

Tetapi, bagaimana mungkin kita tahu bahwa anak kita menyimpang atau tidak?, apabila kita sendiripun buta dengan keyakinan kita sendiri, apabila kita mengaku Islam tetapi hati kita senyap dari keinginan untuk ikut berkiprah dalam gerak tatanan keislaman. Globalisasi dunia, memang tidak saja akan menggoda makna beragama, tetapi juga mulai membuat berbagai distorsi budaya kita sendiri yang pernah dan sering dibanggakan. Pakaian kebaya sebentar lagi hanya tinggal, fosil di musium, karena kaum wanita merasa ribet, out of date kalau memakai kebaya, biarlah kebaya kita pakai sewaktu-waktu saja, setiap hari Ibu atau memperingati Ibu Kartini. Revolusi dalam bidang makanan pun dengan hebatnya telah mendistorsi warna budaya kita sendiri. Ayam Dg. Kanang sebentar lagi harus ke pinggir, digeser oleh Kentucky, California dan Texas Fried chiken. Kue bolu kukus, kalah pamor oleh kedatangan American Donuts. Martabak harus nyingkir digeser oleh Pizza Hut, Es putar dibanting oleh Coca Cola dan Pepsi Cola. Maka kenakalan remaja, bukanlah sesuatu yang sederhana, dia menyangkut berbagai aspek yang rumit. Tetapi dari kacamata religius, kita yakin bahwa pendidikan dirumah (baiti jannati) merupakan senjata yang paling ampuh untuk menangkal juvenile deliquency ini.

Bagaimana mungkin seorang anak akan mencari ulah diluar, apabila setiap magrib atau isya, bahkan subuh, di rumah kita tergelar sajadah untuk shalat berjama’ ah. Ayah jadi Imam, anak pertama adzan, anak yang kedua iqamah, dan seluruh isi rumah dari supir, pembantu, istri dan mertua semua tumplek untuk melaksanakan sholat berjama’ah, ah…alangkah indahnya kehidupan seperti ini.

Memang benar, bahwa faktor lingkungan sangat berperan bagi tingkah laku anak-anak, tetapi harus pula diingat bahwa lingkungan rumah tangga yang sejuk dan berwibawa, merupakan stimulus dominan yang secara dini merasuk pada diri anak tersebut. Para pelaku dari kenakalan remaja, seringkah dikarenakan latar belakang rumah tangganya yang labil, broken home, serta hilangnya intensitas komunikasi dalam keluarga tersebut. Sebab itu, bagaimanapun kesibukan kita mencari nafkah dan mengelola urusan duniawi, tak pelak lagi bahwa seorang ayah dan ibu adalah dua figur yang harus tetap menyempatkan diri untuk melakukan komunikasi dialogis dengan seluruh putra putrinya, sehingga ikatan kasih sayang tetap lestari dan terpelihara.

Al Qur’ an menekankan perintah kasih sayang dalam keluarga ini sebagai elemen penting setelah perintah bertaqwa, “Bertakwalah kamu kepada Allah, tempat kamu saling bermohon, dan peliharalah kasih sayang dalam keluargamu”. Keluarga muslim tidak dibenarkan kehilangan gap antara sesama keluarganya, bahkan sangat diharamkan apabila ada satu anggota keluarga tidak saling tegur sapa sesama mereka, apalagi sampai terputusnya tali kasih dikarenakan ketidak hadiran orang tuanya, khususnya hubungan psychologis, karena kehampaan emosional dari sang anak, sebagai akibat tidak utuhnya kehadiran orang tua, atau dikarenakan terputusnya komunikasi diantara mereka, jelas merupakan trigger untuk menstimulir sang anak untuk menunjukkan unjuk rasa exibisionistis yang berlebihan , sadar atau tidak.

Harry Harlow melakukan penelitian. Dia memisahkan anak-anak monyet dari Ibunya, kemudian dia mengamati prilaku anak monyet yang dipisahkan itu, ternyata anak monyet yang terpisah itu selalu merasa ketakutan, tidak dapat menyesuaikan diri dan daya tahan tubuhnya menurun sehingga sering sakit-sakitan. Dan setelah anak monyet itu besar, kemudian melahirkan anak-anaknya, dia menjadi Ibu yang galak, tidak peduli dengan anak-anaknya, dan bahkan sering menyakiti anak-anaknya tersebut (Para psycholog menyebutnya sebagai maternal deprivation).

Betapa besarnya perhatian Islam terhadap kasih sayang dalam keluarga, sehingga Rasul bersabda “Barangsiapa yang mendapat ujian atau menderita karena mengurus anak-anaknya, kemudian ia berbuat baik kepada mereka, maka perbuatannya itu akan menjadi penghalang bagi siksa neraka.” (hadist diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim dan Turmudzi).

Apabila kita memahami nilai-nilai Islam yang selalau membawa misi kasih, niscaya bagi para orangtua tidak pernah akan membiarkan satu detikpun perhatiannya terhadap misinya untuk membangun tali cinta didalam anggota keluarganya. Dia limpahkan kasih yang ikhlas dari lubuk hatinya, dia tunjukkan ketauladanan seorang muqarrabbin, dia pantulkan fatwa yang penuh dengan hikmah bekal hidup putra putrinya.

Memang dunia bisa memporak porandakan keutuhan keluarga, tetapi selama orang tua tetap konsisten akan misinya dan menjadikan binaan keluarga itu adalah nilai ibadah, tak pelak lagi orang tua, putra putri dan seisi rumah akan bertaburan pelita hikmah. Tetapi sebaliknya apabila para orang tua sudah menganggap anak hanya sebagai penghibur jiwa, dan cukup memberikan rasa cintanya melalui materi belaka, niscaya putra putri kita akan terperangkap dalam dunia hedonis yang melihat dunia adalah segala-galanya, mereguk nikmat tanpa kesadaran akan hari akhir. The Beatles pernah meratap, Mama dont’ go, Daddy come home! seakan sebuah pesan para kawula muda kepada orang tuanya, sisihkanlah waktu untuk kami!.

Anehnya, penyanyi kita pesan liriknya, melulu tentang cinta belaka, mereka berdendang dengan syair-syair yang vulgar. Apakah nyanyian cengeng seperti itu bukan merupakan salah satu ciri dari ekspresi budaya santai dan loyo?.