Mewarta.com, Jeneponto – Setiap kali kualitas pendidikan nasional diperdebatkan, perhatian publik hampir selalu tertuju pada sekolah. Kurikulum dinilai perlu direvisi, guru diminta meningkatkan profesionalisme, dan fasilitas pendidikan terus didorong untuk diperbaiki. Namun di tengah berbagai evaluasi tersebut, ada satu aspek mendasar yang sering terabaikan: keluarga.
Sekolah memang institusi penting dalam sistem pendidikan. Namun menganggap sekolah sebagai pusat tunggal pembentukan generasi adalah cara pandang yang keliru.
Dalam perspektif sosiologi, keluarga adalah agen sosialisasi primer—tempat pertama seorang anak mengenal nilai, norma, bahasa, dan pola perilaku. Sebelum memahami teori kedisiplinan di ruang kelas, anak telah lebih dulu belajar disiplin atau justru ketidakdisiplinan di rumahnya.
Artinya, sekolah tidak pernah bekerja dari titik nol. Ia menerima anak dengan latar belakang karakter yang sudah terbentuk. Ketika anak tumbuh tanpa keteladanan, tanpa pengawasan, dan tanpa pembiasaan nilai yang kuat, sekolah harus bekerja dua kali lebih berat. Di sinilah kita perlu jujur mengakui bahwa pendidikan tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada lembaga formal.
Realitas sosial hari ini menunjukkan gejala yang memprihatinkan. Krisis etika, rendahnya tanggung jawab sosial, serta meningkatnya perilaku menyimpang di kalangan remaja tidak cukup dijawab dengan menambah jam pelajaran atau mengganti kurikulum. Masalahnya bukan semata pada sistem sekolah, tetapi pada lemahnya fondasi pendidikan dalam keluarga.
Dalam ajaran Islam, peran orang tua dalam mendidik anak bukan hanya tanggung jawab sosial, melainkan mandat moral dan spiritual. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tahrim ayat 6: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” Ayat ini menegaskan bahwa orang tua memiliki tanggung jawab terhadap arah kehidupan anak-anaknya.
Surah Luqman ayat 13–19 juga menghadirkan model pendidikan keluarga yang sarat nilai: penanaman tauhid, pembentukan akhlak, pembiasaan ibadah, serta kesadaran sosial. Pendidikan dilakukan melalui dialog dan keteladanan. Inilah pendidikan yang membentuk manusia seutuhnya, bukan sekadar mengejar angka-angka akademik.
Di era digital, tantangan tersebut semakin kompleks. Anak-anak tumbuh dalam arus informasi yang tidak terbendung. Jika keluarga absen sebagai ruang kontrol dan pembinaan, maka teknologi akan mengambil alih peran pendidikan. Gawai bisa menjadi sumber informasi, tetapi tidak pernah bisa menggantikan peran orang tua sebagai teladan.
Karena itu, reformasi pendidikan nasional tidak cukup berhenti pada pembenahan sekolah. Penguatan pendidikan keluarga harus menjadi agenda strategis. Literasi pengasuhan, komunikasi yang sehat di rumah, serta sinergi antara orang tua dan sekolah perlu diperkuat secara berkelanjutan.
Sekolah memang penting. Namun ia bukan segalanya. Keluarga tetap menjadi pilar utama dalam membangun karakter dan arah kehidupan generasi bangsa. Jika kita ingin melahirkan generasi yang cerdas sekaligus berintegritas, maka pendidikan harus dimulai dari rumah.
Masa depan bangsa tidak pertama kali ditentukan di bangku sekolah, melainkan di dalam keluarga yang menjadikan nilai sebagai fondasi kehidupan.
Penulis : Muhammad Egi












