Opini  

Bolaromang Tak Pernah Padam: Mengukir Spiritual Melalui Jumat Mengaji

Mewarta.com. Bolaromang || Di tengah derasnya arus modernisasi dan kesibukan tata kelola administrasi desa, ada satu pemandangan yang menyejukkan di Desa Bolaromang, Kecamatan Tombolopao, Kabupaten Gowa. Saban Jumat, suasana kantor desa tidak hanya diisi oleh ketukan papan ketik komputer, melainkan gema lantunan ayat suci Al-Qur’an.

Program Pencerahan Qalbu Jumat Mengaji yang dicanangkan oleh Bupati Gowa, Husniah Talenrang,rupanya bukan sekadar instruksi di atas kertas bagi Pemerintah Desa Bolaromang. Kegiatan ini telah bertransformasi menjadi ruh dalam pelayanan publik di sana.

Lebih dari Sekadar Rutinitas
Bagi Pemerintah Desa Bolaromang, Jumat Mengaji adalah momen jeda sejenak dari urusan duniawi. Ini adalah bentuk komitmen untuk menyelaraskan antara kerja keras fisik dengan kecerdasan spiritual. Konsistensi ini patut diapresiasi karena membangun desa bukan hanya soal infrastruktur jalan atau jembatan, tetapi juga soal membangun mentalitas masyarakatnya.

Ada beberapa poin penting mengapa keberlanjutan program ini di Desa Bolaromang sangat krusial:

Internalisasi Nilai Karakter: Aparat desa yang memulai harinya dengan mengaji cenderung memiliki integritas dan kesabaran lebih tinggi dalam melayani masyarakat.

Harmonisasi Hubungan: Kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi informal antara pimpinan desa, staf, dan warga yang hadir, sehingga sekat-sekat birokrasi mencair dalam kekhusyukan doa.

Menjaga Identitas Gowa: Sebagai kabupaten yang religius, langkah Bolaromang adalah bukti nyata dukungan terhadap visi besar Kabupaten Gowa dalam mencetak generasi yang qur’ani.

Mengetuk Pintu Langit
Keputusan Pemerintah Desa Bolaromang untuk terus mengawal program ini menunjukkan bahwa mereka memahami filosofi “keberkahan”. Mereka percaya bahwa jika urusan spiritual tertata dengan baik, maka urusan pemerintahan dan kesejahteraan warga akan dimudahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa.

Langkah ini seharusnya menjadi inspirasi bagi desa-desa lain. Bahwa di sela-sela target penyerapan dana desa dan pembangunan fisik, ada “pembangunan jiwa” yang tidak boleh ditinggalkan.

Harapan ke Depan
Kita berharap semangat Jumat Mengaji di Bolaromang tidak pernah padam. Bukan hanya sekadar menggugurkan kewajiban karena adanya instruksi bupati, melainkan menjadi kebutuhan dasar. Ketika Al-Qur’an menjadi nafas dalam bekerja, maka pelayanan yang tulus dan bersih bukan lagi sekadar slogan, melainkan kenyataan.

Semoga dari dinginnya udara Bolaromang, hangatnya lantunan ayat suci terus memberikan pencerahan qalbu bagi setiap jiwa yang mengabdi untuk rakyat.

Penulis :
Ismarianto, S.Pd