Sastra  

Wanita Abstrakku

Lafran (Kader FLP Ranting UINAM)

Mewarta.Com, Makassar-Sembilan Juli 2020, ya itu adalah waktu di mana semua bermula. Tanpa terencana, di kampus peradaban UIN Alauddin Makassar. Entah dia siapa, aku tak begitu mengenalnya. Yang kutahu ia hanya seorang gadis mahasiswi baru, lebih tepatnya teman seangkatanku bahkan teman satu jurusanku. Sungguh tidak terduga dan tidak bisa kumengerti.Tidak sampai di situ, semua berlanjut walau hanya melalui online, haha…, serasa cinta online. Entah kenapa aku begitu tertarik padanya, yang jelas-jelas aku belum mengenalnya dengan baik. Tetapi perasaan ini tak bisa bohong, memang benar aku jatuh cinta padanya. Wah konyol sekali aku berkata cinta, sedewasa apakah aku? Semua bukan soal dewasa atau bukan, seperti yang kita tahu pada dasarnya sebuah perasaan tidak memandang usia. Itulah yang ada dalam benakku saat itu.

Waktu terus berjalan, dan waktu salat dzuhur pun tiba. Selepas percakapan itu, aku tak tahu dia berada di mana, padahal awalnya kami telah atur waktu untuk makan bersama depan kampus. Tetapi, aku tahu bahwa dia sedang bersama ayahnya, karena aku takut akhirnya aku tak menghubunginya. Ah bodohnya aku, mengapa aku tak mengambil kesempatan agar lebih dekat dengan ayahnya? Ah sudahlah!
Dikarenakan aku bersama senior sejurusanku, dia mengajakku pergi untuk menemaninya walau masih ada rasa menyesal sedikit dalam hati karena tak menghubunginya tadi, yah!!! memang sih dia sedang bersama ayahnya. Berniat untuk melupakannya sejenak akan hal itu, tengah perjalanan seniorku kembali mengingatkanku akan wanita tadi, dan kami mulai membicarakan di atas motor seperti seseorang yang mabuk akan cinta. Haha… gilanya kami pada waktu itu, yang di mana dia ternyata tengah mendekati seorang gadis mahasiswi baru.
Alangkah bahagianya kami pada saat itu. Tertawa tidak jelas di atas motor yang hampir jatuh karena kaget ada ayam terbang, haha… sungguh hal yang sangat mengasikan. Setibanya di lokasi kami masih terus membahas hal itu, tak ada habisnya. Inikah yang dinamakan cinta. Haha … ngomong apa aku, aku tak mengerti akan hal itu. Tak disangka waktu cepat sekali berlalu. Sore pun tiba, dan aku langsung mengantar seniorku kembali ke kampus dan aku langsung bergegas untuk pulang karena harus pergi ke kandang ayam potong milik kakakku.

Semalaman aku terdiam memikirkan suatu hal, tetapi ada sadar belum saatnya untuk hal seperti itu. Tetapi, seniorku inilah yang kala itu selalu menyemangatiku agar terus maju berjuang untuk wanita yang kutemui pagi tadi di kampus. Entah mengapa aku bisa begitu yakin dengan wanita itu, padahal kami baru saja bertemu dan belum lama berkomunikasi. Ah!!!! mungkin ini hanya cinta monyet seperti kata orang-orang.

Waktu terus berjalan begitu cepat. Dia yang kini telah berada di kampung halamannya, sementara aku masih berada di kota daeng, ya kota tempat di mana aku sedang merantau. Kami terus berkomunikasi, saling bertukar canda dan lelucon. Terkadang hati bertanya, “Apakah dia memiliki rasa yang sama seperti apa yang aku rasakan?”, ah kenapa aku berpikiran seperti itu, sementara dia baru saja mengenalku. Hati ini terus bertanya-tanya.

Tibalah di suatu hari, aku memberanikan diri untuk mengatakan apa yang ingin aku katakan. Dalam hal ini tak luput dari semangat yang diberikan oleh seniorku tadi. Duweeeerrr, terungkap sudah! Kini aku telah tahu apa yang selama ini dia rasakan tentangku. Tak perluku jelaskan. Aku sedikit kecewa dengan apa yang dia katakan. Itu bukan salahnya dan ini bukan salahku, semua hanya persoalan waktu saja, dan tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.

“Sesungguhnya setiap perbuatan harus dengan niat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bersambung….

Penulis: LafranEditor: Lebah

Tinggalkan Balasan