Mengabarkan Fakta
MasukIndeks
Sastra  

Penolakan

Mantan Ketua Umum FKMA

Pagi masih sama, terbangun karena suara alarm yang tadi malam telah diatur sesuai waktu yang diinginkan, terkadang bukan bergegas bangun akan tetapi mencari sumber suara untuk menon-aktifkannya dan kembali melanjutkan tidur sampai terdengar suara teman kosan membangunkan untuk bergegas ke sekolah, Begitu terus dalam keseharian Adnan menyambut pagi. tapi tidak untuk pagi di hari minggu ini, untuk pertama kalinya ia terbangung lebih awal dari alarmnya bahkan lebih cepat dari kokok ayam. Bergegas cuci muka dan mengambil air wudhu kemudian melaksanakan sholat subuh, tingkahnya itu menimbulkan tanya kepada kami yang melihatnya, lah kok tumben benner dia kata yang seketika keluar dari balik diamku, tambah anehnya lagi ia mengajak kami yang sedang terbaring untuk segera bangung agar bersiap-siap menemaninya untuk olahraga pagi di daerah lapangan merdeka. Awalnya saya malas menemani dia akan tetapi rasa ingin tau menganggu pikiran ini, ada apasih di sana, kok kamu tumben mau jalan ke sana pagi-pagi lagi? Dia tidak menjawab sesuai apa yang ingin saya dengar udalah ntar kamu tau juga kok, ayolah temani yah, jawab dia yang semakin membuatku penasaran, ya uda aku temani tapi aku beres-beres dulu yah.

Setelah beberes kamipun bergegas berangkat dengan berlari-lari kecil menuju ke lapangan, sepanjang perjalanan kami hanya diam dan saya sambil menahan kantuk, sementara dia sangatlah bersemangat, setelah berlari sepanjang satu kilometer akhirnya kamipun sampai di tujuan, yang awalnya sedang berlari kini hanya berjalan santai saja sambil mengitari lapangan. Entah apa yang dia cari selalu menoleh kiri-kanan depan belakang diantara keramaian pada pagi itu, woee kamu cari apasih, kataku yang membuat dia tersentak kaget sembari memukul punggungku dan berkata ach kamu bikin kaget aja tau katanya dia, lah habisnya kamu dari tadi saya perhatiin kaya memncari sesuatu gitu, emangnya kamu cari apa sih, jawabku kepada dia, Achh udah entar kamu akan tau juga kok, lagi-lagi aku mendengar jawaban yang sama dengan waktu di kost-an, semakin membuatku penasaran dengan tingkahnya.

Setelah sekian lama berjalan tanpa suara, seketika terdengar nama perempuan yang keluar dari mulutnya Santi!!! kata dia dengan suara agak keras, seketika memecah sunyi diantara kami dan membuat saya semakin penasaran siapa dia? kataku dalam diam. Aku kesana dulu yah, katanya dia yang lansung meninggalkanku begitu saja, yeee dasar temen laknat, tenyata itu toch tujuanmu ajak saya kesini dan kau tinggalkan begitu saja kataku dengan nada setengah berteriak dan merekapun jalan berdua seakan tak pernah ada aku menemaninya. Dengan perasaan jengkel yang hanya mampu memandangi punggung mereka berdua dari belakang dan berjalan mengikuti arah tujuan mereka. Entah apa yang menjadi pembahasan diantara mereka, aku hanya melihat wajah yang berseri-seri dari teman saya dan sesekali senyumnya terbentuk di bibirnya nampak sekali dia sangat bahagia, namun ternyata tak bertahan lama, karena Santi dia terlihat cerah dan karena santi pulalah membuat dia menjadi muram.

Apa yah kira-kira mereka bahas, sehingga membuat keadaan menjadi tidak enak begini kataku dalam hati. Waktu menunjukkan jam 10.00 pagi dan Santi pun bergegas pergi meninggalkan Adnan dengan espresi yang berusaha terlihat biasa-biasa saja. Aku pergi dulu yah kata santi yang terdengar jelas di telingaku, Santi pergi dan Adnan pun memanggil saya Rangga ayo kita pulang, katanya dengan suara yang kurang bersemangat, akupun bergegas mendekatinya dan berjalan menuju kost-an. Diperjalan saya mencoba untuk memulai percakapan berharap saya menerima penjelasan mengenai kejadian barusan, Adnan, perempuan tadi itu siapa? Kataku kepada Adnan yang sedang berjalan dan tidak memiliki semangat hidup, Adnan kataku kembali memanggilnya setelah ucapanku yang pertama diabaikan oleh dia Hmm yah kenapa, adnan menjawab, astaga jadi kamu tadi tidak mendengar saya kataku dengan nada jengkel, iya maaf jawaban simpel yang keluar dari Adnan, yaudalah kataku yang mencoba mengerti perasaan dia.

Akhirnya kamipun sampai di kost-an, tak ada kata yang mewakili peristiwa hari itu, yang ada hanya dia dan muka murungnya. Masuk dalam kost terbaring dengan tatapan kosong, dalam hatipun seketika bergumal dengan sendirinya jangan-jangan andnan nembak itu cewek lantas dia ketolak kataku dalam hati, tapi tetap saya usahakan untuk tetap berpikir positif ach mungkin dia lagi capek ajah lanjutku dalam hati, meyakinkan diri kalau Adnan sedang baik-baik saja….

 

Bersambung….

Penulis: Baskar HidayatullahEditor: Ika RD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *