Mengabarkan Fakta
MasukIndeks
Opini  

Refleksi 93 Tahun Sumpah Pemuda: Menanti Kepemimpinan Kaum Muda

Guru MTs Arifah Gowa

Merwarta.Com, Makassar-Tidak dapat disangkal bahwa peran anak muda dalam situasi politik bangsa kini semakin menurun. Penyebab utama merosotnya penduduk muda saat ini adalah struktur politik dan dominasi orang tua dalam pemerintahan, terutama di elit partai politik. Politisi senior tampaknya tidak ingin menggeser perannya di arena politik kepada generasi muda. Sejujurnya, sejumlah besar anak muda di negeri ini memiliki potensi untuk menjadi pemimpin di negeri ini. Dari segi kemampuan, keberanian, visi dan cara pandang, pemuda kita saat ini tidak kalah dengan pemuda masa lalu.

Menurut Taufiq Kiemas, yang mereka butuhkan saat ini adalah kesempatan untuk “ruang” atau berkreasi. Dari sisi mental, anak muda kini lebih dihargai kemampuannya dalam mengambil inisiatif dan menyusun strategi strategis. Dengan sedikit ruang dan kesempatan, mereka tentu akan lebih berperan dalam mempercepat pemulihan kehidupan politik dan ekonomi suatu negara.

Sejarah menunjukkan hal ini. Perjalanan panjang di negeri ini tidak jauh dari peran penting yang dimainkan oleh generasi muda. Para pemuda selalu berada di balik semua episode utama perjalanan masa lampau. Predikatnya sebagai agen perubahan sebenarnya dilakukan pada momen krusial dalam proses negara ini. Boedi Oetomo, didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 (kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional), adalah sebuah organisasi yang didirikan oleh kaum muda. Konferensi Pemuda ke-2 tahun 1928 (diperingati setiap tanggal 28 Oktober sebagai Hari Sumpah Pemuda) menghasilkan dokumen sejarah yang sangat penting bagi sejarah Indonesia. Saat itu, kepribadian muda dengan berani dan terus terang memperkenalkan pemuda sebagai kelompok yang mendukung eksistensi Indonesia sebagai negara-bangsa.

Pada Revolusi Nasional Indonesia Tahun 1945 menjadi panggung bagi para pemuda tanah air, sehingga Benedict Anderson tidak segan-segan menyebutnya sebagai Revolusi Pemuda. Selain itu, pendiri republik ini adalah seorang pemuda dengan semangat, keberanian, dan idealisme yang luar biasa. Bung karno diangkat menjadi presiden pada usia 44 tahun. Sementara itu, di usianya yang ke-43, Bung Hatta diangkat menjadi Wakil Presiden. Ketika Indonesia menjadi semakin hancur dan korup pada tahun 1966, pemuda sekali lagi menjadi kekuatan pendorong di balik perubahan sosial. Rezim elit yang mengabaikan realitas rakyat bisa digulingkan oleh kekuatan anak muda. Apa yang terjadi pada tahun 1966 terulang kembali pada tahun 1998, ketika kaum muda menggulingkan kepemimpinan orde baru yang totaliter dan militeristik, yang penuh dengan korupsi, kolusi, dan laten, dan menggantinya dengan sistem yang lebih demokratis, yang terus memainkan peran penting.

Berbagai prestasi pemuda di masa lalu menunjukkan bahwa negara Indonesia memiliki landasan sejarah yang sangat kuat bagi kepemimpinan pemuda. Namun, ketika orde baru naik ke panggung, peran anak muda berkurang. Pemuda bersuara itu tersingkir dari ranah kekuasaan dan dunia pendidikan. Di bawah kepemimpinan orde baru yang menindas, lelaki tua itu dilindungi dan dikepung karena merekalah satu-satunya kompromi. Kehidupan politik bangsa Indonesia terus berlanjut tanpa partisipasi luas kaum muda.

Proses regenerasi dibatasi secara sistematis dan struktural. Akibatnya, seperti yang kita saksikan sekarang, muncul politisi-politisi dengan kualitas dan karakter masa lalu dalam corak politik nasional era reformasi. Oleh karena itu, menjadi alasan yang sangat kuat bagi bangsa Indonesia untuk memajukan generasi muda pada level pemimpin nasional.

Kemauan politik kaum tua dan kemauan kuat kaum muda sangat penting untuk membuktikan apa yang bisa mereka lakukan. Lebih penting lagi, peran partai politik dalam melatih para kaum muda untuk posisi kepemimpinan di masa depan. Ini harus dimulai dengan struktur politik dan keengganan para tetua dalam pemerintahan negara.

Para elite partai politik harus memiliki keberanian untuk memberi anak muda “panggung” yang lebih luas di tingkat kontrol nasional. Keterlibatan pemuda secara intensif dalam struktur kepemimpinan di pemerintahan dapat menjadi pendorong pertama untuk (kembali) membuka jalan bagi pemuda menuju kepemimpinan nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *