Mengabarkan Fakta
MasukIndeks
Opini  

Menakar Makna Kemerdekaan Bagi Warga Dampak Gempa

Mewarta.com, Makassar- Puing bangunan itu terlihat berserakan di tanah. Isak tangis pilu terngiang di telinga apalagi mereka yang menjadi korban. Bekas – bekas telapak kaki yang berlarian pun tak kunjung hilang. Teriakan takbir pun menggema di angkasa.

Mungkin ingatan kita masih cukup segar akan kejadian yang menimpa dan menggemparkan puluhan ribu warg Kecamatan Pasilambena dan Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar.

Tepatnya, 14 Desember 2021. Telah terhitung 247 hari atau bulan ke 8 bulan sejak hari kejadian. Kita tentu masih ingat, bagaimana dahsyatnya gempa berkekuatan 7,4 SR itu yang getarannya pun sampai di rasakan oleh puluhan ribu warga di Kecamatan Pasilambena dan Pasimarannu Kabupaten Kepulauan Selayar. Tidak hanya itu, ratusan rumah pun hancur rata dengan tanah.

Secara geografis memang dua kecamatan terluar di ufuk selatan Kepulauan Selayar ini menjadi wilayah perbatasan antara Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Sementara titip pusat gempa itu relatif cukup dekat dengan daerah tersebut.

Akibat pergerakan kerak bumi itu, sontak rakyat pun berhamburan. Mereka lari penuh ketakutan dan kecemasan yang tak karuan. Jaringan telepon juga tiba – tiba putus, hujan gerimis turun serasa menggambarkan suasana kebatinan warga yang menangis.

Seketika rakyat berhamburan mencari perlindungan di bukit dan dataran tinggi. Teriakan Allahu Akbar menggema, lantunan doa mendaras di langit. Rasa kasih mengasihi antara sesama menjadi ikatan yang membatinkan. Akibat rasa traumatik itu hingga menyebabkan sebagian besar warga memilih tidur di bukit dengan membangun tenda Ponco tak ubahnya seperti orang sedang melakukan perkemahan. Pada saat itu dikatakan sebagai tenda pengungsian gempa.

Kendati demikian rasa persaudaraan pun semakin menguat. Rasa peduli sesama pun terwujud satu sama lain dalam bentuk gotong royong akibat reruntuhan bangunan. Karena dahsyatnya gempa itu juga memporak – porandakan ratusan rumah warga Selayar di Kecamatan Pasilambena dan Pasimarannu.

Di sisi lain, ada yang luka – luka hingga dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah KH. Hayyung bahkan ada yang meninggal dunia. Begitu alam murka tidak milih rumah siapa jadi korban dan siapa yang akan tertimpa serta memandang latar belakang, dan jabatan seseorang. Tak kalah harunya seorang warga di Kalaotoa juga melahirkan bayi di bawah tenda pengungsiannya.

Dan masih ingatkah kita dengan nama Ibu Cari Kamba. Perempuan paruh baya yang juga menjadi korban gempa lantaran tertimpa reruntuhan pada hari kejadian, 14 Desember 2021. Akibat tak sadarkan diri, terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit namun sayang tidak lebih sepekan Tuhan pun memanggilnya.

Peduli Kemanusiaan

Terlepas dari musibah yang telah menguji tajamnya nurani kemanusiaan kita. Rasa peduli dari semua pihak juga terwujud dalam bentuk open donasi yang berdatangan dari segala penjuru baik dalam bentuk bahan logistik maupun uang tunai.

Dari leading sector pemerintahan dan unsur komunitas juga telah bekerja dengan maksimal untuk membantu warga yang tengah hidup dalam suasana kepanikan. Termasuk bantuan dari Plt Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman langsung ditransfer sebanyak 8 Milyar untuk perbaikan rumah dampak gempa.

Proses pencairan bantuan sebanyak 8 Milyar ini sangat membantu perbaikan rumah warga apalagi telah sampai ditangan warga yang terdampak secara bertahap melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim). Anggaran tersebut sudah dinikmati secara bertahap bagi warga yang termasuk dalam ketegori rumah rusak ringan dan sedang.

Berdasarkan informasi terkait penanganan rusak sedang dan ringan sudah memasuki tahapan penyaluran bahan. Dengan demikian bahwa sudah ada progres yang luar biasa dari kedua instansi terkait yang menangani persoalan dana gempa.

Namun demikian yang menjadi pertanyaan, bagaimana dengan 162 unit rumah rusak berat yang hingga saat ini sama sekali belum ada tanda – tanda untuk perbaikan. Mungkin tidak salah jika dijustifikasi bahwa masih jauh dari harapan sehingga belum layak untuk disyukuri.

Tak hanya itu, mestinya Dana Tunggu Hunian (DTH) lazimnya layak diterima oleh 162 unit pemilik rumah kategori rusak berat selama tahapan dan proses ini berjalan, sedikitnya tiga bulan dengan nominal 500 ribu perbulan untuk 1 unit rumah tetapi juga belum ada satu pun yang terima.

Sebagaimana setiap rumah warga yang rumahnya mengalami rusak berat akan diberi dana stimulan sebesar Rp50 juta, untuk rusak sedang Rp25 juta dan yang rusak ringan mendapat Rp10 juta.

Kemudian DTH lebih spesifik diperuntukkan bagi korban bencana dengan kondisi bangunan rumah atau hunian dalam kondisi rusak ringan hingga berat sebesar Rp.500 ribu per bulan, dan diberikan selama enam bulan dengan tujuan agar keluar dari tempat pengungsian, serta dapat mengontrak rumah untuk ditinggali sementara selagi rumah mereka direnovasi.

Apa Makna Kemerdekaan?

Kemerdekaan yang telah diperjuangkan oleh para pendahulu bangsa tentu menjadi buah manis untuk dinikmati oleh seluruh generasi saat ini. Itu sebabnya setiap bulan Agustus menjelang tanggal 17 senantiasa diwarnai dengan perayaan yang cukup meriah.

Dengan beragam euforia yang telah dipertunjukkan dalam memperingati hari kemenangan seluruh rakyat Indonesia di raihnya pada 77 tahun yang silam dengan bercucuran darah dan air mata.

Namun, akankah euforia itu juga turut dirasakan oleh 162 warga Pasilambena dan Pasimarannu, semoga saja iya. Pasalnya, sampai saat ini anggaran perbaikan untuk rumahnya yang telah luluh lantah akibat gempa 14 Desember lalu, masih sebatas rekening kosong.

Mereka sama sekali masih belum menikmati buah janji manis dari pemerintah yang konon katanya anggarannya akan ditanggung langsung oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Mungkinkah BNPB sedang menginggau saat mengatakan bahwa dana gempa untuk rusak berat akan dikucurkan olehnya sehingga dana 8 Milyar dari Gubernur Sulsel dapat dialihkan untuk segera menangani rumah rusak ringan dan sedang yang saat ini tengah berjalan hampir finishing. Tapi faktanya sejauh ini masih belum ada satu rupiah pun yang masuk ke rekening warga.

Demikianlah hemat saya tentang makna kemerdekaan dalam konteks kekinian. Bahwa seyogyanya mereka telah merasakan asas manfaat dari pemerintah untuk perbaikan rumahnya bukan malah sebaliknya, harapannya digantung terus menerus entah sampai kapan. Di tengah kemerdekaan yang ke-77 ini, justru rakyat serasa diperhadapkan dengan rumitnya kebijakan akibat ulah bangsanya sendiri. Karena pada kenyataanya memang kita tidak lagi sedang bergencatan senjata bersama bangsa lain. Tetapi kita akan berlawanan dengan bangsa kita sendiri yang tengah memegang tampuk kekuasaan lantaran kebijakannya.

Hal ini telah diwanti – wanti jauh sebelumnya oleh bapak pendiri bangsa Bung Karno bahwa “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, namun perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”

Olehnya itu, kita pun berharap usai perayaan kemerdekaan ini akan ada progres tindak lanjut yang kongkrit terkait penyaluran dana gempa khususnya untuk rumah rusak berat serta dana tunggu hunian yang lazimnya ada bagi mereka yang sedang dalam proses perbaikan rumahnya.

Entah dengan cara apalagi untuk melakukan tekanan agar keberpihakan itu kian mendekat dan mulai terwujud. Mungkin salah satunya dengan melalui tulisan yang kritis, berharap bisa menjadi doa sehingga Tuhan menekan denyut nadi para pemangku kepentingan agar turut merasakan penderitaan rakyatnya yang tengah berharap bantuan perbaikan rumahnya.

Penulis: Suharlim (Tokoh Pemuda Kab.Selayar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *