Mengabarkan Fakta
MasukIndeks
Opini  

GERBANGSARI; Optimalisasi Potensi Desa Di Kabupaten Kepulauan Selayar

Andi Mahmud, ST, M. Ikom. (Ketua Komisi 1 DPRD Kepulauan Selayar)

Mewarta.com, Selayar — Gerbangsari atau Gerakan Membangun Desa Mandiri adalah program yang sangat menarik. Apalagi dimulai dengan kata Gerakan, sebagai suatu tindakan terencana untuk hadirnya sebuah perubahan.

Dilihat dari potensi desa, dapat dikatakan bahwa desa-desa kita umumnya memiliki potensi dari sektor perkebunan/pertanian dalam rupa kelapa, kemiri, pala, cengkeh, kenari, jambu mete dan vanili termasuk tanaman padi di Pulau Jampea dengan kondisi dan tantangan yang dihadapi oleh setiap komoditi kita. Kelapa tumbuh hampir ada disetiap desa, namun tidak demikian halnya komoditi yang lain. Cengkeh, pala, jambu mete, kemiri dan vanili didominasi oleh dua kecamatan (Bontomanai dan Bontosikuyu).

Lain halnya dengan potensi perikanan yang boleh dikatakan hampir semua desa ada lautnya. Dari sektor peternakan, sapi adalah program prioritas. dengan ketersediaan ternak sapi yang hampir menyeluruh di daratan Selayar. Beberapa desa juga ditunjang oleh potensi wisata untuk dikembangkan menjadi Desa Wisata.

Terus, tantangan kita dimana dalam membangun Gerbangsari? Atau apa yang ingin kita hasilkan dari program ini?  keberhasilan dari Gerbangsari sangat tergantung dari seberapa besar kemampuan kita dalam melakukan optimalisasi potensi yang ada di desa. Optimalisasi potensi ini harus merupakan akumulasi dari apa yang direncanakan oleh pemerintah kabupaten dengan kemauan dari masyarakat desa masing-masing. Sebagai titik temu dari konsep perencanaan Top down dan bottom up. Di satu sisi ada kemauan yang kuat dari pemerintah kabupaten dan ada keinginan dari masyarakat desa masing-masing.

Kesuksesan dari Gerbangsari berikutnya adalah menjadikan BUMDES sebagai Lembaga Ekonomi yang kuat ditingkat desa.  Dengan cara memberikan BUMDES MODAL USAHA. Apakah cukup dengan modal saja? Tentu tidak. Bumdes juga harus didukung oleh SDM yang profesional dalam mengelola usahanya. Sampai disini kita bisa bertanya Unit Usaha Apa yang cocok? Yang bisa membuka lapangan kerja dan tentunya keuntungan yang banyak? Dari sektor pertanian hanya kelapa yang bisa diperjualbelikan setiap hari karena dukungan dari bahan baku yang cukup. Diluar kelapa ada jambu mete dengan masa panen Nopember sampai Februari. Begitupun dengan kemiri dari Nopember sampai Februari. Diluar itu Ada cengkeh yang panen di bulan Agustus atau pala yang terus berbuah sepanjang tahun ditunjang oleh vanili yang masa panennya di Juli dan Aguatus.

Begitu pula halnya dari sektor perikanan yang juga bisa diperjualbelikan setiap hari, ditunjang oleh sektor peternakan dimana sapi biasanya diminati menjelang lebaran haji. Stok kambing kita semakin hari terus berkurang padahal ternak kambing adalah salah satu sektor peternakan yang bisa diperjualbelikan setiap harinya.

Kegagalan BUMDES dalam optimalisasi potensi perdagangan di tingkat desa dapat menjadi sebab gagalnya Gerbangsari, apalagi jika BUMDES tidak mendapatkan dukungan dana yang besar sebagai hibah dari pemerintah desa harapan terealisasinya desa mandiri semakin jauh dari yang diharapkan.

Apa yang bisa desa lakukan jika tiba-tiba pemerintah pusat menghentikan dana desa? Atau ADD di tingkat Kabupaten? Mampukah desa mandiri? Kita ketahui bersama bahwa program ini sudah berjalan satu dekade atau bahkan lebih tanpa mampu menghasilkan desa mandiri. Apakah ada yang salah dalam mengelola potensi desa sampai tidak optimal?  Masing-masing kita bisa merenungkannya.

 

Penulis: Andi Mahmud (Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Selayar Partai Demokrat).

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *