Mengabarkan Fakta
MasukIndeks
Opini  

Alegori Goa Plato dan Simulasi Keberadaan (Identitas dan Kenikmatan)

Don Ariyadi

Mewarta.Com, Makassar- Plato adalah seorang filsuf Yunani yang hidup abad ke-4 SM, ketika Yunani sedang mengalami dinamika pemikiran dan kehausan intelektual yang ketat. Plato adalah seorang murid dari seorang selebriti pada filsafat yaitu Socrates yang namanya melejit ketika menantang kebekuan pikiran para kaum sofis di Athena kala itu. Ketenarannya akan keberaniannya melawan status pemikiran yang mandek dan statis dengan metode dialognya yang praktis tidak dibendung oleh kalangan sofis mengantarkannya pada tiang gantungan atas tuduhan telah menyesatkan pikiran pemuda dan rakyat Athena dan hukuman itu mengantarkan karier intelektualnya secara personal berakhir tetapi juga menjadi obor kebebasan dalam berekspresi serta kedalaman ilmu mulai terang menyala di langit Athena.

Platolah yang menarasikannya pada karya dan mengabadikan setiap jejak pemikiran sang Guru. Setelah kematian Socrates Yunani mengalami suatu reformasi intelektual pesak dan dinamis kembali. Proses dialektika menjadi simbol kemajuan dibandingkan dengan kebiasaan Sofis yang sekedar retoris semata yang akan mengungkung kebebasan pikir dan praktik sosial Athena.
Alegori Goa Plato dan Identitas yang Guyah.

Plato pada suatu waktu memberikan narasi tentang sekumpulan orang yang dirantai dalam suatu gua dan selama hidupnya tidak pernah menjajaki dunia luar gua. Hanya ada Api unggun menyala menerangi dan memantulkan bayangan di dinding gua. Fenomena realitas yang dibayangkan adalah satu kebenaran yang dipersepsikan manusia dalam gua. Praktis transformasi pengetahuan dari dalih panca indra adalah reaksi alamiah yang diperankan setiap orang dengan responsif terhadap realitas luar dirinya.

Pada suatu ketika ada di antara mereka ada yang lepas dari rantai dan keluar gua dan melihat realitas yang baru dijajakinya, menjadikan dunia dalam gua adalah suatu tatanan yang terpisah secara konseptual dengan realitas baru yang mengisi kebaruan pikirannya.
Narasi di atas merupakan suatu proposisi aforisme keberadaan tentang realitas tubuh dan pikiran. Tentunya wacana keberadaan begitu luas dan tidak dapat dibahas dalam suatu tulisan terbatas ini. Apakah dunia dikonstruksi dengan alamiah atau justifikasi pikiran, begitu pun dengan pikiran dan keterkaitannya dengan realitas “luar gua” tersebut.

Era globalisasi seperti gelombang zaman yang menggelinding di dinding kebudayaan manusia di dalamnya bukan hanya ada arus revolusi informasi tetapi identitas budaya yang bebas menghantam gagasan identitas kita yang otentik.
Indonesia notabenenya merupakan negara yang multikultural dengan latarbelakang kebudayaan yang berbeda-beda dan dengan kemajemukan itu yang istimewa oleh Benedict Anderson yang tergelitik oleh fenomena kultur yang majemuk mampu membangun nasionalisme sendiri yang disebutnya Imagine Community kini sudah mengalami degradasi identitas. Modernitas kini merupakan ancaman sekaligus tantangan babak baru bagi kebudayaan kita.

Modernitas membangun suatu citra yang geometris dengan cara pandang bahwa hidup adalah menderang lurus. Tentunya proposisi modern itu bertumpu pada gagasan Cartesian, bahwa ada keakuan yang didaku “tahu” yang didaulat oleh sejarah yang guyah. Dalam Studie Culture ide tentang “Aku” memiliki peranan ganda subyek dan identitas. Manusia sebagai obyek adalah kodrati dan identik tetapi sebagai Identitas labil dan genting.

Globalisasi membawa gaya hidup yang riuh cepat dan buru-buru dan mendapat tetapi mendapat sambutan hangat dari berbagai penikmat di dunia oleh sebab dibalut dan lapisi suatu marketing pasar yang menggiurkan.Demikian dalih globalisasi dengan cepat merambat bagai virus yang cepat menjangkit setiap manusia yang tidak memiliki imunitas tinggi. Demikian didakukan identitas baru itu berguling di beranda media tempat dan lingkungan di sekitar kita. Suatu pertanyaan yang terus menagih kita untuk memastikan identitas keberadaan sebagaimana Indonesia dengan identitas budaya yang arif dan bijaksana secara filosofis bergeser perlahan menjadi tradisi pragmatis yang mengutamakan pasar dan liberalisasi budaya.

Penulis: Don AryadiEditor: Don Aryadi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *